Menguak Misteri Teknik Audio: Panduan Jawaban Soal Buku Kelas 12 Semester 1

Dunia audio, dengan segala kompleksitas dan keindahannya, merupakan bidang yang terus berkembang dan menarik bagi para penggemar teknologi. Bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang memilih jurusan Teknik Audio, pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip dasar dan aplikasinya adalah kunci keberhasilan. Semester 1 kelas 12 merupakan periode krusial di mana konsep-konsep fundamental mulai diperdalam, mengantarkan siswa pada pemahaman yang lebih matang tentang bagaimana suara direkam, diolah, dan didistribusikan.

Artikel ini hadir sebagai panduan komprehensif untuk menjawab berbagai soal yang mungkin dihadapi siswa dalam buku Teknik Audio kelas 12 semester 1. Kita akan mengupas tuntas topik-topik penting, memberikan penjelasan yang mudah dipahami, dan menyajikan jawaban yang mendalam, layaknya seorang guru yang membimbing muridnya.

1. Dasar-Dasar Akustik dan Fisika Suara

Salah satu pilar utama dalam teknik audio adalah pemahaman tentang akustik dan fisika suara. Soal-soal dalam bagian ini umumnya akan menguji pemahaman siswa tentang:

  • Definisi Suara: Suara adalah getaran mekanis yang merambat melalui medium (udara, air, padatan) dan dapat didengar oleh telinga manusia. Getaran ini menghasilkan gelombang longitudinal.
  • Parameter Gelombang Suara:
    • Frekuensi: Jumlah getaran per detik, diukur dalam Hertz (Hz). Menentukan tinggi rendahnya nada. Rentang pendengaran manusia umumnya antara 20 Hz hingga 20 kHz.
    • Amplitudo: Ketinggian gelombang suara, menentukan keras lembutnya suara (intensitas). Diukur dalam desibel (dB).
    • Panjang Gelombang (λ): Jarak antara dua puncak atau lembah gelombang yang berurutan. Berhubungan dengan frekuensi dan kecepatan suara (v = fλ).
    • Kecepatan Suara: Kecepatan rambat gelombang suara. Dipengaruhi oleh medium, suhu, dan kelembaban. Di udara pada suhu ruangan, kecepatan suara sekitar 343 m/s.
  • Fenomena Akustik:
    • Refleksi (Pantulan): Gelombang suara memantul ketika mengenai permukaan keras. Penting dalam desain ruang konser untuk menciptakan gema yang diinginkan atau menghindari pantulan yang mengganggu.
    • Refraksi (Pembiasan): Perubahan arah gelombang suara ketika melewati medium yang berbeda. Contohnya, suara terdengar lebih jelas saat udara dingin di lapisan bawah.
    • Difraksi (Pelenturan): Kemampuan gelombang suara untuk melewati celah atau menyebar di sekitar objek. Menjelaskan mengapa suara masih terdengar meskipun ada penghalang.
    • Absorpsi (Penyerapan): Gelombang suara diserap oleh material lunak, mengurangi intensitas suara. Penting dalam peredaman suara.
    • Resonansi: Fenomena di mana sebuah objek bergetar dengan amplitudo besar ketika dikenai frekuensi yang sama dengan frekuensi naturalnya. Dapat memperkuat suara atau menyebabkan getaran yang tidak diinginkan.

Contoh Soal & Jawaban:

Soal: Jelaskan perbedaan antara frekuensi dan amplitudo dalam konteks gelombang suara, dan berikan contoh bagaimana perbedaan ini memengaruhi persepsi pendengaran kita.

Jawaban:
Frekuensi dan amplitudo adalah dua parameter fundamental yang menggambarkan gelombang suara.

  • Frekuensi mengacu pada jumlah siklus getaran per detik, yang diukur dalam Hertz (Hz). Frekuensi menentukan tinggi rendahnya nada suara. Nada yang tinggi memiliki frekuensi yang lebih tinggi, sedangkan nada yang rendah memiliki frekuensi yang lebih rendah. Misalnya, suara siulan memiliki frekuensi tinggi, sementara suara bass drum memiliki frekuensi rendah.
  • Amplitudo mengacu pada kekuatan atau "ketinggian" gelombang suara, yang seringkali diasosiasikan dengan keras lembutnya suara. Secara teknis, amplitudo berkaitan dengan tekanan udara yang dihasilkan oleh gelombang suara. Amplitudo yang lebih besar menghasilkan suara yang lebih keras, sementara amplitudo yang lebih kecil menghasilkan suara yang lebih pelan. Satuan yang umum digunakan untuk mengukur intensitas suara (yang berkaitan erat dengan amplitudo) adalah desibel (dB).

Dampak pada Persepsi Pendengaran:
Perbedaan frekuensi dan amplitudo secara langsung memengaruhi persepsi pendengaran kita. Ketika kita mendengar suara, otak kita memproses kedua parameter ini secara simultan.

  • Jika kita mendengar suara dengan frekuensi tinggi dan amplitudo rendah, kita akan mempersepsikannya sebagai suara yang nyaring (misalnya, suara decitan tikus).
  • Jika kita mendengar suara dengan frekuensi rendah dan amplitudo tinggi, kita akan mempersepsikannya sebagai suara yang dalam dan keras (misalnya, suara gemuruh petir).
  • Perubahan pada frekuensi tanpa perubahan amplitudo akan membuat nada suara berubah, sementara perubahan pada amplitudo tanpa perubahan frekuensi akan membuat volume suara berubah.

Pemahaman ini sangat penting dalam berbagai aplikasi audio, mulai dari penyetelan instrumen musik, perancangan sistem pengeras suara, hingga penataan akustik ruangan.

2. Komponen-Komponen Dasar Sistem Audio

Sistem audio terdiri dari berbagai komponen yang bekerja sama untuk menghasilkan suara. Soal-soal di bagian ini akan mengeksplorasi fungsi dan karakteristik dari:

  • Mikrofon: Perangkat yang mengubah energi suara menjadi sinyal listrik. Terdapat berbagai jenis mikrofon, seperti:
    • Dinamik: Kokoh, tidak memerlukan daya eksternal, cocok untuk sumber suara keras. Prinsip kerja berdasarkan induksi elektromagnetik.
    • Kondenser: Sensitif, memerlukan daya phantom (biasanya +48V), menghasilkan suara yang lebih detail dan jernih, cocok untuk vokal dan instrumen akustik. Prinsip kerja berdasarkan perubahan kapasitansi.
    • Ribbon: Sangat sensitif terhadap transien, menghasilkan suara yang sangat natural dan warm, namun rapuh.
  • Kabel Audio: Media penghantar sinyal listrik dari satu perangkat ke perangkat lain. Jenis umum meliputi:
    • Kabel Mikrofon (XLR): Menggunakan konektor 3-pin, umumnya seimbang (balanced) untuk mengurangi noise.
    • Kabel Instrument (TS/TRS): Menggunakan konektor 1/4 inci (mono/stereo), umumnya tidak seimbang (unbalanced).
    • Kabel Speaker: Memiliki ukuran konduktor yang lebih besar untuk menghantarkan daya yang tinggi.
  • Mixer Audio: Perangkat yang menggabungkan, mengatur, dan memanipulasi berbagai sinyal audio dari berbagai sumber. Fitur utama meliputi:
    • Input Gain: Mengatur level sinyal masuk dari mikrofon/instrumen.
    • Equalizer (EQ): Mengatur keseimbangan frekuensi (bass, middle, treble).
    • Aux Send/Return: Untuk mengirim sinyal ke efek eksternal (seperti reverb, delay) dan mengembalikannya ke mixer.
    • Fader/Potensiometer: Mengatur volume output dari setiap channel atau output utama.
  • Amplifier (Power Amplifier): Perangkat yang meningkatkan level sinyal audio dari mixer ke level yang cukup kuat untuk menggerakkan speaker. Memiliki spesifikasi seperti daya output (Watt) dan impedansi (Ohm).
  • Speaker (Loudspeaker): Perangkat yang mengubah sinyal listrik kembali menjadi energi suara. Komponen utama speaker meliputi:
    • Woofer: Driver untuk frekuensi rendah.
    • Midrange: Driver untuk frekuensi menengah.
    • Tweeter: Driver untuk frekuensi tinggi.
    • Crossover: Sirkuit yang membagi sinyal audio ke driver yang sesuai berdasarkan frekuensinya.
READ  Soal uas kimia kelas 10 semester 1 dan jawabannya

Contoh Soal & Jawaban:

Soal: Jelaskan perbedaan mendasar antara mikrofon dinamik dan mikrofon kondenser, termasuk kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kapan sebaiknya menggunakan salah satu dari kedua jenis mikrofon ini?

Jawaban:
Perbedaan mendasar antara mikrofon dinamik dan kondenser terletak pada prinsip kerja konversi energi suara menjadi sinyal listrik.

Mikrofon Dinamik:

  • Prinsip Kerja: Bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik. Gelombang suara menggetarkan diafragma yang terhubung ke koil suara yang berada di dalam medan magnet permanen. Gerakan koil di dalam medan magnet menghasilkan arus listrik kecil yang merupakan sinyal audio.
  • Kelebihan:
    • Kokoh dan Tahan Lama: Lebih tahan terhadap benturan fisik dan kelembaban.
    • Tidak Memerlukan Daya Eksternal: Dapat langsung digunakan tanpa memerlukan phantom power.
    • Mampu Menangani Tingkat Tekanan Suara (SPL) Tinggi: Cocok untuk sumber suara yang sangat keras seperti drum, gitar, dan vokal yang bertenaga.
    • Relatif Lebih Murah: Dibandingkan dengan mikrofon kondenser berkualitas tinggi.
  • Kekurangan:
    • Kurang Sensitif: Dibandingkan dengan mikrofon kondenser, sehingga mungkin kurang ideal untuk menangkap detail suara yang sangat halus atau sumber suara yang pelan.
    • Respon Frekuensi Mungkin Kurang Luas: Terutama pada frekuensi tinggi.

Mikrofon Kondenser:

  • Prinsip Kerja: Bekerja berdasarkan perubahan kapasitansi. Diafragma tipis yang dilapisi logam berfungsi sebagai salah satu plat kapasitor, sementara plat logam tetap di belakangnya berfungsi sebagai plat kapasitor lainnya. Ketika gelombang suara menggetarkan diafragma, jarak antara kedua plat berubah, yang mengakibatkan perubahan kapasitansi. Perubahan kapasitansi ini kemudian diubah menjadi sinyal listrik oleh sirkuit elektronik internal. Mikrofon kondenser memerlukan daya eksternal (biasanya phantom power +48V) untuk mengoperasikan diafragma dan sirkuit elektroniknya.
  • Kelebihan:
    • Sangat Sensitif: Mampu menangkap detail suara yang halus, nuansa, dan dinamika suara dengan sangat baik.
    • Respon Frekuensi Luas dan Akurat: Menghasilkan suara yang lebih jernih, transparan, dan detail.
    • Respon Transien yang Cepat: Mampu mereproduksi suara yang cepat dan mendadak dengan akurasi tinggi.
  • Kekurangan:
    • Lebih Rapuh: Lebih rentan terhadap benturan fisik, kelembaban, dan suhu ekstrem.
    • Memerlukan Daya Eksternal (Phantom Power): Tanpa daya ini, mikrofon tidak akan berfungsi.
    • Mungkin Terlalu Sensitif untuk Sumber Suara yang Sangat Keras: Jika tidak dikontrol dengan baik, dapat menghasilkan distorsi.
    • Umumnya Lebih Mahal: Dibandingkan dengan mikrofon dinamik.

Kapan Sebaiknya Menggunakan:

  • Mikrofon Dinamik:

    • Merekam drum, terutama snare dan tom-tom, serta kick drum.
    • Merekam gitar listrik (amplifier).
    • Merekam vokal live di panggung yang bising.
    • Untuk situasi di mana ketahanan dan kemudahan penggunaan menjadi prioritas utama.
    • Merekam sumber suara yang sangat keras.
  • Mikrofon Kondenser:

    • Merekam vokal studio untuk detail dan kejernihan.
    • Merekam instrumen akustik seperti gitar akustik, piano, biola, dan alat musik tiup.
    • Merekam orkestra atau paduan suara.
    • Untuk aplikasi yang membutuhkan pengambilan suara yang sangat natural dan detail.
    • Dalam lingkungan studio yang terkontrol di mana kerapuhan mikrofon tidak menjadi masalah.

3. Teknik Perekaman dan Pengolahan Audio

Bagian ini akan membahas tentang bagaimana suara ditangkap dan dimanipulasi setelah direkam.

  • Prinsip Perekaman:
    • Pemilihan Mikrofon yang Tepat: Sesuai dengan sumber suara dan karakteristik yang diinginkan.
    • Penempatan Mikrofon (Mic Placement): Posisi mikrofon relatif terhadap sumber suara sangat memengaruhi hasil rekaman (proximity effect, detail frekuensi, stereo imaging).
    • Pengaturan Gain: Menghindari clipping (distorsi) dan memastikan sinyal yang cukup kuat.
    • Akustik Ruangan: Mempertimbangkan pantulan, gema, dan kebisingan latar belakang.
  • Format File Audio:
    • Lossy (misal: MP3, AAC): Mengurangi ukuran file dengan membuang informasi yang dianggap kurang penting oleh pendengaran manusia.
    • Lossless (misal: FLAC, WAV): Menyimpan semua informasi audio asli, menghasilkan kualitas suara terbaik namun dengan ukuran file lebih besar.
  • Digital Audio Workstation (DAW): Perangkat lunak yang digunakan untuk merekam, mengedit, mencampur, dan mengolah audio secara digital (misal: Pro Tools, Logic Pro, Cubase, Audacity).
  • Efek Audio:
    • Reverb: Mensimulasikan pantulan suara di suatu ruangan, memberikan kesan kedalaman dan ruang.
    • Delay: Mengulang sinyal audio, menciptakan efek gema atau echo.
    • Chorus: Membuat suara terdengar lebih tebal dan kaya dengan menduplikasi sinyal dan sedikit menggeser pitch serta waktu.
    • Flanger/Phaser: Efek modulasi yang menciptakan suara "menyapu" atau "jet plane".
    • Distortion/Overdrive: Menghasilkan suara yang "pecah" atau agresif dengan mengompres dan memperkuat sinyal secara ekstrem.
    • Compression: Mengurangi rentang dinamis sinyal audio, membuat bagian yang keras menjadi lebih pelan dan bagian yang pelan menjadi lebih keras, sehingga suara terdengar lebih konsisten.
  • Mixing dan Mastering:
    • Mixing: Proses menyeimbangkan level, frekuensi, dan penempatan spasial dari semua track audio dalam sebuah lagu.
    • Mastering: Tahap akhir pasca-produksi yang mengoptimalkan kualitas suara keseluruhan dari mix, mempersiapkannya untuk distribusi.
READ  Latihan soal pts kelas 9 semester 1

Contoh Soal & Jawaban:

Soal: Jelaskan konsep proximity effect pada mikrofon, bagaimana cara kerjanya, dan kapan efek ini dapat memberikan manfaat dalam proses perekaman.

Jawaban:
Proximity Effect adalah fenomena yang terjadi pada mikrofon jenis directional (unidirectional), seperti mikrofon cardioid, supercardioid, atau bidirectional. Fenomena ini menyebabkan peningkatan respons frekuensi rendah (bass) ketika sumber suara didekatkan sangat dekat dengan diafragma mikrofon.

Cara Kerja Proximity Effect:
Prinsip kerjanya berkaitan dengan cara mikrofon directional merespons gelombang suara dari arah yang berbeda. Mikrofon directional bekerja dengan prinsip perbedaan tekanan suara antara bagian depan dan belakang diafragma.

  • Ketika sumber suara jauh dari mikrofon, gelombang suara yang mencapai bagian depan dan belakang diafragma memiliki tekanan yang relatif sama, sehingga pergerakan diafragma ditentukan oleh perbedaan tekanan total.
  • Namun, ketika sumber suara sangat dekat dengan diafragma, terutama pada mikrofon directional, gelombang suara dari sisi depan diafragma akan memiliki tekanan yang jauh lebih besar daripada gelombang suara yang harus "berjalan memutar" untuk mencapai sisi belakang diafragma. Perbedaan tekanan yang besar ini cenderung mendorong diafragma lebih kuat, terutama pada frekuensi rendah yang memiliki panjang gelombang lebih besar. Efek ini secara efektif meningkatkan respons frekuensi rendah pada jarak dekat.

Manfaat Proximity Effect dalam Perekaman:
Meskipun kadang dianggap sebagai efek yang perlu dihindari, proximity effect dapat memberikan manfaat yang signifikan dalam proses perekaman, tergantung pada tujuan artistik dan jenis sumber suara:

  1. Menambah Kehangatan dan Kedalaman pada Vokal: Proximity effect sering digunakan secara sengaja pada rekaman vokal untuk memberikan suara yang lebih "penuh", "hangat", dan "dekat". Ini bisa membuat suara vokal terdengar lebih intim dan menonjol dalam sebuah mix.
  2. Meningkatkan Kekuatan pada Instrumen Bass: Untuk instrumen seperti bass drum, bass gitar, atau bahkan untuk memberikan bobot pada suara instrumen lain yang cenderung tipis, mendekatkan mikrofon dapat membantu memperkuat frekuensi rendahnya.
  3. Mengontrol Ambience Ruangan: Dengan menempatkan mikrofon sangat dekat dengan sumber suara, Anda dapat mengurangi penangkapan suara ruangan (reverb dan ambience). Ini berguna ketika merekam di ruangan dengan akustik yang kurang ideal, karena suara langsung dari sumber akan mendominasi, dan proximity effect akan membantu memperkaya suara tersebut.
  4. Efek Artistik: Dalam beberapa genre musik, seperti rock atau blues, proximity effect dapat digunakan untuk menciptakan karakter suara yang agresif, kuat, dan "menggigit".

Pentingnya Penggunaan yang Tepat:
Untuk memanfaatkan proximity effect dengan baik, perlu dilakukan percobaan penempatan mikrofon. Perubahan jarak hanya beberapa sentimeter saja dapat sangat memengaruhi hasil suara. Jika efek ini tidak diinginkan, solusinya adalah menjauhkan mikrofon dari sumber suara, atau menggunakan mikrofon omnidirectional yang tidak memiliki proximity effect.

4. Sistem Tata Suara (Sound System)

Bagian terakhir ini akan menyentuh tentang bagaimana suara diperkuat dan disalurkan ke audiens.

  • Konfigurasi Sistem:
    • Mono vs. Stereo: Pengaturan satu sumber suara vs. dua sumber suara untuk menciptakan citra spasial.
    • Sistem PA (Public Address): Sistem pengeras suara untuk acara publik.
    • Monitor Speaker: Speaker yang ditempatkan di atas panggung untuk didengarkan oleh musisi.
  • Desibel (dB) dan Pengukuran Level Suara:
    • dB SPL (Sound Pressure Level): Mengukur tekanan suara yang dirasakan telinga.
    • dBm/dBV: Mengukur level sinyal listrik dalam sistem audio.
  • Impedansi dan Beban Speaker: Penting untuk mencocokkan impedansi amplifier dengan impedansi speaker agar tidak terjadi kerusakan atau penurunan performa.
  • Koneksi Sistem: Urutan yang benar dari mikrofon ke mixer, mixer ke amplifier, dan amplifier ke speaker.
READ  Latihan soal fisika kelas 10 semester 2

Contoh Soal & Jawaban:

Soal: Jelaskan apa yang dimaksud dengan impedansi dalam konteks audio, mengapa penting untuk mencocokkan impedansi amplifier dan speaker, dan apa konsekuensinya jika impedansi tidak cocok?

Jawaban:
Impedansi dalam konteks audio adalah ukuran resistansi total terhadap aliran arus listrik dalam suatu rangkaian, terutama yang melibatkan komponen AC (arus bolak-balik) seperti yang digunakan dalam sinyal audio dan speaker. Impedansi diukur dalam satuan Ohm (Ω).

Dalam sistem audio, ada dua impedansi utama yang perlu diperhatikan:

  1. Impedansi Output Amplifier: Ini adalah impedansi yang "dilihat" oleh amplifier saat terhubung ke beban (speaker). Amplifier dirancang untuk beroperasi secara optimal pada rentang impedansi output tertentu.
  2. Impedansi Input Speaker (Beban Speaker): Ini adalah impedansi yang "dilihat" oleh amplifier ketika speaker terhubung. Speaker memiliki impedansi nominal yang biasanya tercantum pada bodi speaker (misalnya, 4Ω, 8Ω, 16Ω).

Mengapa Penting Mencocokkan Impedansi Amplifier dan Speaker:
Mencocokkan impedansi antara amplifier dan speaker sangat penting untuk memastikan transfer daya yang efisien, kinerja optimal, dan keamanan komponen.

  • Transfer Daya yang Efisien: Amplifier mentransfer daya ke speaker. Agar daya ditransfer secara efisien, impedansi speaker (beban) harus "cocok" dengan impedansi output amplifier. Ketiadaan kecocokan yang tepat dapat menyebabkan sebagian daya hilang atau tidak tersalurkan dengan baik.
  • Kinerja Optimal: Amplifier yang bekerja pada impedansi yang dirancang akan menghasilkan suara dengan kualitas terbaik, distorsi minimal, dan rentang frekuensi yang optimal.
  • Perlindungan Amplifier: Amplifier dirancang untuk mengalirkan arus tertentu pada impedansi tertentu. Jika speaker memiliki impedansi yang terlalu rendah dari yang dirancang amplifier, amplifier akan mencoba mengalirkan arus yang lebih besar dari kemampuannya. Ini dapat menyebabkan panas berlebih, kerusakan pada komponen internal (seperti transistor output), atau bahkan kerusakan total pada amplifier.
  • Perlindungan Speaker: Meskipun lebih jarang terjadi, impedansi yang terlalu tinggi dari yang dirancang amplifier juga dapat menyebabkan masalah, meskipun umumnya lebih aman bagi amplifier. Speaker mungkin tidak menerima daya yang cukup, sehingga suaranya lemah dan kurang bertenaga.

Konsekuensi Jika Impedansi Tidak Cocok:

  1. Jika Impedansi Speaker Lebih Rendah dari yang Dirancang Amplifier (Overloading):

    • Panas Berlebih pada Amplifier: Amplifier akan bekerja keras untuk mencoba mengalirkan arus yang dibutuhkan oleh speaker berimpedansi rendah.
    • Distorsi: Sinyal audio dapat terdistorsi karena amplifier dipaksa bekerja di luar batasnya.
    • Kerusakan Amplifier: Komponen amplifier dapat terbakar atau rusak akibat panas berlebih dan arus yang berlebihan. Ini adalah konsekuensi yang paling serius dan umum terjadi.
    • Suara Putus-putus atau Mati: Dalam kasus yang parah, amplifier bisa mati total untuk melindungi dirinya sendiri atau karena kerusakan permanen.
  2. Jika Impedansi Speaker Lebih Tinggi dari yang Dirancang Amplifier (Underpowering):

    • Suara Lemah: Speaker tidak akan menerima daya yang cukup dari amplifier, sehingga output suara akan sangat pelan.
    • Kurang Tenaga dan Dinamika: Kualitas suara akan terdengar datar dan kurang bertenaga.
    • Tidak Ada Kerusakan Signifikan pada Amplifier (Umumnya): Ini biasanya lebih aman bagi amplifier daripada menghubungkan speaker berimpedansi terlalu rendah. Namun, amplifier mungkin tidak beroperasi pada efisiensi terbaiknya.

Aturan Umum:
Produsen amplifier biasanya mencantumkan rentang impedansi operasi yang aman (misalnya, "4-8 Ohms"). Selalu pastikan bahwa impedansi speaker yang Anda hubungkan berada dalam rentang tersebut. Jika Anda memiliki beberapa speaker, Anda perlu menghitung impedansi total rangkaian seri atau paralelnya dan memastikan bahwa impedansi gabungan tersebut aman untuk amplifier Anda.

Artikel ini telah membahas berbagai topik kunci yang umum ditemukan dalam buku Teknik Audio kelas 12 semester 1. Dengan pemahaman yang mendalam tentang konsep-konsep ini dan praktik langsung, siswa akan lebih siap untuk menghadapi berbagai tantangan dalam dunia teknik audio. Ingatlah bahwa teori hanyalah satu sisi; pengalaman praktis dan eksperimen adalah kunci untuk menjadi seorang teknisi audio yang handal.

Semoga artikel ini bermanfaat! Anda bisa menyesuaikan contoh soal dan jawaban agar lebih spesifik sesuai dengan kurikulum atau materi yang ada di buku teks Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *